jump to navigation

Femininitas Dalam Kerapuhan Demokrasi Thailand September 22, 2011

Posted by Athiqah Nur Alami in Foreign Policy, Gender, International Relations, Women.
trackback

Yingluck Shinawatra, pekan lalu telah secara resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Thailand ke-28 oleh parlemen Thailand setelah partai Pheu Thai yang mengusungnya berhasil meraup 60% kursi di parlemen Thailand. Adik kandung mantan PM Thaksin Shinawatra ini muncul menjadi perdana menteri perempuan pertama dalam sepanjang sejarah politik Thailand. Fakta ini seakan semakin memperkuat temuan beberapa studi mengenai kemunculan pemimpin perempuan di Asia Tenggara yang menyatakan bahwa hubungan kekerabatan merupakan faktor penting bagi seorang kandidat pemimpin perempuan untuk memenangkan pemilihan umum. Argumen ini juga yang dapat menjelaskan bagaimana Presiden Corazon Aquino dan Gloria Macapagal Arroyo dari Filipina serta Presiden Megawati Soekarnoputri dapat dikenal dengan cepat oleh rakyat dan berhasil duduk sebagai pemimpin pemerintahan. Oleh karena itu hubungan kekerabatan dengan politisi laki-laki yang pernah secara aktif terlibat dalam pemerintahan telah menjadi modal awal bagi seorang kandidat perempuan untuk dapat terpilih, termasuk Yingluck Shinawatra.

Faktor lain yang meningkatkan elektabilitas Yingluck adalah kemampuannya menggunakan identitasnya sebagai seorang perempuan untuk merebut hati rakyat Thailand. Yingluck, seorang perempuan muda dan cantik secara fisik, mengedepankan karakter feminin yang melekat padanya sebagai asset politik untuk mengalahkan lawan-lawan politiknya. Tradisi “Wai”, gerakan mengkatupkan kedua tangan seperti berdoa sebagai tanda hormat, yang selalu dipraktekkan Yingluck mampu membentuk citra akan karakter bersahaja, hangat dan kharismatik. Selain itu, model kampanye yang santun, tenang dan tidak konfrontatif ditunjukkan oleh Yingluck dalam setiap kesempatan. Yingluck selalu mengatakan hal-hal yang baik tentang pesaingnya, sebagai taktik untuk mendapat simpati. Hal ini berbeda dengan pesaing politiknya, PM Abhisit, yang cenderung menghembuskan pesan-pesan negatif dalam beberapa kesempatan kampanyenya.

Persinggungan antara statusnya sebagai bagian dari klan Shinawatra dan kemampuannya menonjolkan karakter femininitas pada dirinya merupakan dua faktor utama yang menentukan terpilihnya Yingluck Shinawatra. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kemenangannya akan dapat menandai awal bagi perbaikan kondisi politik dan kerapuhan demokrasi di Thailand dan apakah identitasnya sebagai perempuan akan berkorelasi terhadap pemajuan agenda kesetaraan gender serta pemenuhan hak-hak perempuan di Thailand?.

Kerapuhan demokrasi
Kehidupan demokrasi di Thailand semakin mengalami kerapuhan sejak terjadinya kudeta militer atas PM Thaksin Shinawatra pada 2006 dimana militer berperan sentral dalam perpolitikan Thailand. Hal ini diantaranya terlihat ketika tahun 2010 penanganan tentara Thailand terhadap aksi protes anti pemerintah menyebabkan 90 orang terbunuh, sebagian besar korban adalah pendukung Thaksin. Akibatnya terjadi kegoncangan politik di Thailand dan memunculkan segregasi politik antara dua kubu berbeda. Mereka adalah pendukung Thaksin “kaus merah” versus pendukung kemapanan “kaus kuning”, atau antara kelompok pekerja dan kaum miskin kota versus kelompok kelas menengah dan elit kota.

Untuk itu, Yingluck sebagai kandidat utama partai Pheu Thai, berupaya memanfaatkan keberadaan pendukung Thaksin yang masih tersebar baik di parlemen Thailand maupun di jalan. Dalam salah satu agenda kempanyenya, Yingluck mengusung ide amnesti untuk mendorong rekonsiliasi di Thailand. Amnesti diyakini dapat merangkul berbagai “warna politik” di Thailand dan melupakan hal-hal yang terjadi sejak kudeta 2006. Namun, ide tersebut mengundang berbagai kritik karena dianggap akan memutihkan dosa-dosa Thaksin, seperti korupsi dan pelecehan terhadap institusi demokrasi, serta membuka peluang bagi Thaksin untuk kembali berkuasa. Kritikan lain juga dilayangkan kepada Yingluck yang dianggap sebagai pendatang baru dalam politik Thailand. Meskipun Yingluck tumbuh dalam keluarga yang tidak asing dalam politik, tapi dia belum pernah terlibat langsung dalam aktivitas politik praktis.

Sebagai respons atas berbagai kritikan tersebut, Yingluck meminta rakyat Thailand untuk memberinya kesempatan untuk membuktikan dan menunjukkan kemampuan dirinya serta melepaskan diri dari bayang-bayang Thaksin. Untuk itu, partai Pheu Thai nampaknya harus bekerja keras untuk membuktikan kemampuannya mengatasi berbagai persoalan politik yang menyandera konsolidasi demokrasi di Thailand. Dalam hal ini, pendekatan Yingluck yang berkarakter feminin akan mengalami ujian dalam menjembatani kedua kubu yang bertikai dan mewujudkan rekonsiliasi nasional.

Agenda Kesetaraan Gender
Selain harapan bagi konsolidasi demokrasi di Thailand, terpilihnya Yingluck juga memunculkan harapan akan didorongnya isu-isu perempuan dalam mewujudkan kesetaraan gender. Selama ini, perempuan Thailand masih mengalami berbagai persoalan seperti kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan kemiskinan di desa dan kota. Selain itu, rendahnya kualitas moral di kalangan anak-anak perempuan Thailand dan posisi Thailand sebagai jaringan prostitusi internasional menjadi persoalan lain yang membelit perempuan Thailand.

Namun jika kita lihat dari berbagai sisi, harapan di atas nampaknya akan problematik. Jika dilihat dari latar belakang Yingluck yang bukan seorang aktivis yang sedari awal konsisten memperjuangkan perempuan, maka tidak ada jaminan bahwa seorang Yingluck akan memahami betul persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan Thailand dan menawarkan solusinya. Asumsi ini semakin menguat ketika Yingluck hampir tidak pernah mengusung agenda pemenuhan hak-hak perempuan dalam setiap kampanyenya, meskipun berhasil meraih simpati dari kaum perempuan, khususnya kalangan ibu-ibu. Yingluck lebih mengedepankan program-program populis, seperti kenaikan upah buruh, fasilitas kartu kredit untuk petani dan pemberian komputer untuk anak-anak sekolah. Oleh karena itu terpilihnya Yingluck nampaknya tidak akan membawa implikasi yang signifikan dalam agenda pemenuhan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.

Sementara di sisi lain, secara positif, memiliki perempuan sebagai kepala pemerintahan merupakan simbol penting akan kemunculan kekuatan baru di Thailand di tengah pertumbuhan ekonomi dan modenisasi budaya Thailand sejak 1960an. Pada masa lalu hingga saat ini kepemimpinan dunia politik di Thailand masih didominasi oleh laki-laki, meskipun perempuan telah berperan aktif di sektor ekonomi dan sosial. Hal ini ditandai dengan tingginya rasio perempuan bekerja di Thailand. Jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, Thailand merupakan negara yang memiliki partispasi perempuan tertinggi dalam pasar tenaga kerja. Namun persoalannya tingginya partisipasi perempuan dalam bekerja tidak berimplikasi dalam menstimulasi perempuan untuk berpartisipasi di bidang politik. Dengan kata lain, meskipun perkembangan sosial dan ekonomi membebaskan perempuan Thailand untuk berkiprah dengan berbagai cara, tapi sektor politik tetap didominasi oleh laki-laki. Hal ini dikarenakan budaya politik tradisional Thailand masih bersifat elitis dan tidak egaliter, diantaranya budaya otoritarianisme dan hierarki dalam Thai Buddhism dan tradisi Brahmanisme, yang menempatkan perempuan dalam posisi marginal. Oleh karena itu, meskipun agenda kesetaraan gender dan pemenuhan hak-hak perempuan masih memerlukan perjalanan panjang di Thailand, kemunculan femininitas Yingluck Shinawatra di tengah kerapuhan demokrasi Thailand telah menunjukkan adanya pergeseran dalam kekuatan politik tradisional di Thailand.

©athiqahnuralami.wordpress.com, 2011

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: