jump to navigation

Perempuan dan Dampak Perubahan Iklim January 7, 2010

Posted by Athiqah Nur Alami in Gender, Women.
Tags: , ,
trackback

Perubahan iklim (climate change) saat ini telah menjadi salah satu ancaman global dan serius bagi keamanan manusia (human security). Berbagai efek dari perubahan iklim mempengaruhi seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan dunia. Pihak-pihak yang paling merasakan dampak perubahan iklim tersebut adalah negara-negara miskin dan kelompok masyarakat yang rentan, seperti perempuan dan anak-anak.

Sebuah studi yang dilakukan oleh the London School of Economics and Political Science terhadap 141 negara yang terkena bencana pada periode 1981-2002 juga menemukan kaitan erat antara bencana alam dan status sosial ekonomi perempuan. Bencana alam ternyata berakibat pada penurunan angka harapan hidup perempuan dan peningkatan gender gap dalam masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan ternyata merupakan korban terbesar dari berbagai bencana alam yang terjadi. Akibatnya, terjadi peningkatan angka kemiskinan di kalangan perempuan dan semakin terbukanya jurang ketidaksetaraan gender karena perempuan harus menanggung beban tanggung jawab ganda yang lebih berat daripada laki-laki.

Persoalannya, berbagai fakta empiris atas dampak perubahan iklim terhadap perempuan belum diiringi kesadaran akan pentingnya melibatkan perempuan, sebagai pihak yang ”terlupakan”, ke dalam berbagai pembahasan mengenai perubahan iklim. Padahal pengalaman yang berbeda antara laki-laki dan perempuan merupakan alasan penting mengingat perubahan iklim memiliki implikasi yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan.

Kondisi ironis tersebut kemudian mendorong munculnya berbagai inisiatif yang menekankan pentingnya mengintegrasikan perspektif perempuan dalam pengambilan kebijakan, diantaranya dengan cara melibatkan perempuan sebagai aktor dalam menyelesaikan persoalan terkait dengan perubahan iklim. Poin-poin tersebut akan menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini.

Tulisan akan diawali dengan eksplorasi singkat atas signifikasi efek perubahan iklim bagi kelangsungan hidup umat manusia dengan melihat kasus di berbagai negara. Selanjutnya, tulisan akan membahas berbagai implikasi perubahan iklim bagi perempuan, termasuk relasi gender perempuan dan laki-laki serta membahas peran-peran yang telah dan perlu dimainkan oleh perempuan dan laki-laki dalam merespons efek perubahan iklim tersebut.

Signifikansi perubahan iklim

Perubahan iklim, sebagai suatu fenomena alam, muncul menjadi persoalan serius ketika cuaca bumi berubah sedemikian cepat seiring dengan meningkatnya intensitas aktivitas manusia. Pertumbuhan populasi dunia yang mendorong peningkatan berbagai aktivitas konsumsi dan produksi energi untuk pembangunan ekonomi telah mempengaruhi kapasitas bumi untuk menyesuaikan dan memenuhi segala kebutuhan tersebut.

Revolusi Industri di Eropa, misalnya, yang menyebabkan meningkatnya intensitas pembakaran kayu, batu bara, minyak dan gas, telah mengakibatkan peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfir. Akibatnya permukaan bumi menjadi semakin panas dan temperatur meningkat tajam. Dalam laporan “State of World Population 2009” oleh United Nations Population Fund (UNFPA), perubahan iklim akibat berbagai aktivitas ekonomi tersebut akan menyebabkan temperatur bumi diperkirakan terus meningkat hingga 6.4 derajat pada tahun 2100 dari hanya sebesar 0.74 derajat di akhir tahun 1800an.

Perubahan iklim akibat kenaikan temperatur bumi tersebut pada akhirnya akan menimbulkan efek rumah kaca (green-house effect) dan pemanasan global (global warming) di berbagai wilayah dan mengancam kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, perubahan iklim menjadi suatu isu global yang signifikan dalam beberapa hal.

Pertama, kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global akan mengancam kelangsungan hidup komunitas masyarakat pesisir dan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil. Indonesia termasuk salah satu negara yang terancam kehilangan 2000 pulau-pulau kecilnya pada tahun 2030.

Selain itu, perubahan iklim akan meningkatkan potensi dan intensitas terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, kekeringan dan banjir bandang di berbagai wilayah. Negara-negara di wilayah Asia Selatan dan gurun Sahara, misalnya, merupakan daerah yang paling menderita dan merasakan akibat dari pemanasan global, kendati daerah tersebut telah sebelumnya terkenal dengan tingginya angka kemiskinan dan kelaparan.

Perubahan iklim juga menjadi signifikan karena memiliki dampak kesehatan dan sosial bagi masyarakat luas. Berbagai bencana alam yang terjadi tidak hanya menyebabkan kematian, tapi juga meningkatkan potensi penyebaran berbagai penyakit bagi masyarakat sekitar. Diare, malaria, kolera adalah jenis-jenis penyakit yang sering menghinggapi negara-negara yang terkena bencana alam akibat kenaikan air laut dan curah hujan. Hal ini dikarenakan dalam kondisi bencana, masyarakat sulit untuk memperoleh air bersih dan fasilitas sanitasi serta kesehatan yang memadai. Dampak kesehatan ini kemudian terkait erat dengan munculnya berbagai persoalan-persoalan sosial.

Menurut the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dampak sosial tersebut dapat bervariasi tergantung pada faktor usia, kelas sosial ekonomi, pekerjaan dan gender. Dengan kata lain, perubahan iklim tidak hanya mengancam jiwa dan menyebabkan kematian, tapi juga memperluas disparitas antara kaum kaya dan miskin, menyebabkan perpindahan penduduk dan mempengaruhi pola relasi laki-laki dan perempuan yang menyebabkan ketidaksetaraan gender. Perempuan sebagai kelompok masyarakat yang rentan, seringkali menjadi korban terbanyak dalam berbagai bencana besar, seperti tsunami Aceh, badai di Honduras dan Katrina di Amerika Serikat.

Bagian selanjutnya dari tulisan ini akan secara khusus membahas implikasi perubahan iklim terhadap perempuan dan relasinya dengan laki-laki.

Implikasi perubahan iklim bagi perempuan

Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa perubahan iklim memiliki dampak sosial bagi relasi gender, terutama kondisi sosial ekonomi perempuan. Data-data menunjukkan tingginya jumlah perempuan yang menjadi korban dari berbagai fenomena alam akibat perubahan iklim.

Bencana tsunami di Aceh, misalnya, sebanyak 55-70% korban meninggal adalah perempuan. Bahkan di beberapa negara maju juga menunjukkan trend yang sama. Ketika terjadi bencana gelombang panas di Perancis pada tahun 2003 perempuan merupakan 70% dari 15,000 korban meninggal. Selain itu, korban badai Katrina di Amerika Serikat (AS) adalah mayoritas perempuan miskin keturunan Amerika-Afrika, yang termasuk kategori masyarakat miskin di AS.

Persoalannya, menurut laporan UNFPA, fakta akan tingginya angka kematian perempuan tidak disertai dengan berbagai kebijakan yang memberikan perhatian kepada perempuan dan anak sebagai pihak yang rentan terhadap bencana. Padahal bencana akibat perubahan iklim tersebut memiliki dua implikasi penting bagi perempuan.

Pertama, perubahan iklim yang menyulut bencana berimplikasi pada terciptanya kemiskinan di kalangan perempuan. Hal ini dapat dilihat terkait dengan pembagian kerja bagi perempuan yang berkontribusi terhadap terciptanya kemiskinan. Kebanyakan perempuan bekerja di sektor informal dan pertanian yang rentan secara ekonomi terhadap bencana alam. Keduanya tergolong sektor dengan tingkat kerusakan terparah ketika terjadi suatu bencana alam. Akibat bencana, para perempuan yang menggantungkan hidupnya di sektor tersebut menderita kerugian yang luar biasa karena kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin.

Kondisi ini kemungkinan berbeda bagi perempuan yang masih memiliki dan tinggal bersama suami dengan perempuan yang menjadi orangtua tunggal, baik masih bersuami maupun sudah berstatus janda. Jika kondisi tersebut terjadi, perempuan bersuami masih dapat bertahan hidup dengan mengandalkan pemasukan dari suami yang mungkin bekerja di sektor lain atau mereka masih dapat menegosiasikan alternatif pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Namun dalam kasus ini, terkadang perempuan mengalami persoalan dalam hal bargaining power dalam menentukan kebijakan. Rendahnya kekuatan perempuan untuk mengambil keputusan masih menjadi penghalang bagi perempuan untuk merealisasikan berbagai inisiatif ekonomi untuk meningkatkan sumber pendapatan alternatif bagi keluarganya.

Sementara itu, implikasi bencana alam bagi perempuan yang menjadi orangtua tunggal tidaklah lebih baik. Meskipun mereka cenderung lebih bebas dalam membuat keputusan, kondisi sosial ekonomi perempuan tidak akan serta merta menjadi lebih baik. Bencana alam yang menyebabkan hilangnya sumber mata pencahariaan semakin memperparah kondisi ekonomi mereka. Banyak perempuan di Bangladesh, misalnya, telah menjadi orangtua tunggal sekian lama dan berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah potensi ancaman bencana banjir yang kerap terjadi. Para perempuan tersebut menjadi kepala keluarga karena suami-suami mereka bermigrasi ke negara lain untuk bekerja.

Selain dalam hal pembagian kerja, kemiskinan akibat perubahan iklim juga terjadi di kalangan perempuan karena mereka tidak atau hanya sedikit memiliki aset ekonomi, seperti lahan. Data dari Institute for Social and Environmental Transition menguak bahwa ternyata secara global hanya kurang dari 2% perempuan dunia yang memiliki lahan. Padahal aset-aset tersebut dapat dijual sehingga bermanfaat untuk menopang hidupnya dan membantu memulihkan kondisinya pascabencana. Akibatnya, ketika perempuan tidak memiliki kekuatan ekonomi dalam keluarga maka perempuan tidak memiliki banyak peluang untuk memperbaiki kondisi ekonominya, termasuk dalam situasi darurat seperti bencana alam.

Implikasi kedua perubahan iklim terhadap perempuan yaitu memperparah ketidaksetaraan dalam relasi gender antara laki-laki dan perempuan. Argumen ini berangkat dari asumsi bahwa ketidaksetaraan gender tersebut sebenarnya telah ada di masyarakat sebelum bencana alam terjadi. Lalu ketidaksetaraan menjadi kian nyata ketika bencana tersebut datang sehingga menyebabkan perempuan sebagai mayoritas korban dalam suatu bencana alam.

Ketidaksetaraan gender dalam konteks ini terkait erat dengan perbedaan kemampuan perempuan dan laki-laki dalam mengakses sumber daya, informasi, mobilitas dan proses pembuatan kebijakan sehingga menentukan siapa yang paling merasakan dampak dari bencana alam. Ketidaksetaraan gender dalam hal terbatasnya akses perempuan terhadap bencana dapat terlihat mulai dari kesiapan menghadapi bencana (disaster preparedness), pencegahan hingga rehabilitasi.

Dalam beberapa kasus, ketidaksetaraan gender terlihat ketika perempuan tidak mendapat peringatan sebelum bencana alam terjadi sehingga mereka tidak sempat meninggalkan rumahnya untuk menyelamatkan diri. Akibatnya perempuan lebih banyak menjadi korban daripada laki-laki dalam bencana alam.

Sementara itu, ketika bencana alam telah terjadi, ketidaksetaraan gender semakin mengemuka dari semakin menguatnya peran-peran tradisional perempuan. Perempuan di banyak negara berkembang bertanggung jawab dalam peran untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk air bersih dan makanan.

Namun bencana alam, yang bukan merupakan situasi normal, semakin mempersulit akses perempuan terhadap berbagai sumber daya, seperti air, sanitasi dan energi untuk memasak. Perempuan harus berkompetisi dengan laki-laki untuk mengamankan sumber daya guna kelangsungan hidup. Bahkan seorang ilmuan menyatakan situasi ini sebagai pilihan hidup atau mati bagi perempuan. Padahal akses perempuan terhadap sumber daya ini penting karena terkait erat dengan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan bukan hanya untuk kebutuhannya secara pribadi.

Situasi bencana alam ini akhirnya menciptakan beban ganda bagi perempuan. Perempuan tidak hanya bertanggungjawab untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan reproduksi keluarga, tapi juga harus berjuang untuk mendapatkannya. Karena besarnya kedua tanggung jawab ini, perempuan tidak lagi memperhatikan kesehatan reproduksi dan seksual mereka sehingga kesehatannya terancam.

Situasi pascabencana yang telah memasuki masa rehabilitasi, seringkali justru memperparah ketidaksetaraan gender. Pada masa ini, para perempuan muda masih sibuk berkutat pada pemenuhan tanggung jawab tersebut. Mereka enggan untuk kembali ke bangku sekolah guna mengenyam pendidikan dan lebih memilih bermigrasi menjadi buruh untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Bahkan ketidaksetaraan gender terjadi dalam hal meningkatnya kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Pengalaman di Malawi, misalnya, menunjukkan bahwa meningkatnya angka perceraian di kalangan perempuan muda mewarnai kondisi masyarakat pascabencana. Perceraian kemudian menggiring para perempuan tersebut terjun ke dunia prostitusi guna bertahan hidup dan mendorong pada meluasnya penyebaran virus HIV/AIDS di negara tersebut.

Pembahasan di atas menunjukkan bahwa perubahan iklim yang menyebabkan bencana alam telah menjadi sumber permasalahan yang berdampak sosial bagi perempuan dan menghambat proses pembangunan pascabencana. Padahal keterlibatan perempuan sebagai bagian dari masyarakat sangat diperlukan dalam pembangunan negara.

Oleh karena itu, paradigma pembangunan di banyak negara tidak lagi menempatkan perempuan sebagai objek yang terkena dampak dari perubahan iklim. Perempuan juga dapat menjadi subjek atau aktor yang berperan untuk mencegah dan mengatasi dampak sosial ekonomi dan berkontribusi dalam pembangunan. Bagian selanjutnya akan membahas lebih detil peran-peran yang telah dilakukan perempuan dalam mengatasi efek perubahan iklim.

Peran perempuan dalam agenda perubahan iklim

Perubahan iklim memang diakui memiliki implikasi sosial ekonomi bagi perempuan, namun perubahan iklim pada sisi lain dapat menjadi isu penting dimana perempuan dapat memainkan perannya sebagai kekuatan penggerak. Perempuan dapat berperan sebagai agent of change yang dapat merespons perubahan lingkungan dengan lebih baik daripada laki-laki, diantaranya dengan berperan aktif pada peran-peran tradisional laki-laki dalam situasi bencana alam.

Selain itu peran perempuan sebagai decision makers dan community leaders juga penting untuk mendorong pengintegrasian perspektif perempuan dalam berbagai kebijakan terkait dengan perubahan iklim. Pengakuan akan pentingnya perspektif gender telah muncul dalam the Hyogo Framework of Action sebagai hasil dari the World Conference on Disaster Reduction States yang diselenggarakan PBB pada tahun 2005. Kesepakatan tersebut menyebutkan bahwa “a gender perspective should be integrated into all disaster risk management policies, plans and decision-making processes, including those related to risk assessment, early warning, information management, and education and training”. Hal ini sedikit banyak menunjukkan keseriusan PBB dalam menghimbau pemerintah negara-negara dan pemangku kepentingan lainnya untuk menghasilkan berbagai kebijakan perubahan iklim yang terintegrasi dengan isu gender dan keamanan manusia.

Pengalaman banyak negara dalam isu perubahan iklim menunjukkan bahwa perempuan telah mampu memainkan peran yang sejalan dengan tujuan global dalam perubahan iklim yaitu mitigasi dan adaptasi. Hal ini dikarenakan perempuan memiliki pengalaman, naluri dan pengetahuan akan local wisdom dalam menjaga kelestarian alam.

Upaya mitigasi terkait dengan langkah pencegahan atas dampak perubahan iklim, diantaranya dengan mengurangi emisi gas dan memperkecil kadar konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir. Pengalaman di India menunjukkan bahwa kebijakan mitigasi dalam bentuk optimalisasi cuaca baik dan penekanan pentingnya konservasi lingkungan di tingkat masyarakat akar rumput telah mampu membantu masyarakat India mencegah dampak perubahan iklim. Indonesia dengan Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon turut berkontribusi mengurangi kadar gas karbondioksida di udara sehingga dapat mencegah dampak perubahan iklim.

Tujuan adaptasi yang menekankan pada upaya untuk meminimalkan kerusakan sosial ekonomi dari dampak perubahan iklim juga mampu ditunjukkan oleh perempuan. Tanggung jawab perempuan baik dalam rumah tangga maupun komunitas masyarakat telah memungkinkan mereka untuk mengembangkan berbagai strategi untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan akibat pemanasan global. Selain itu kapasitas perempuan tersebut berkontribusi untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa dalam situasi bencana alam.

Kebijakan training bagi para perempuan Honduras dalam menangani sistem peringatan dini dan memastikan evakuasi korban bencana terbukti telah berhasil mengurangi korban meninggal dunia dalam bencana badai Mitch. Selain itu, bencana kekeringan di Micronesia juga dapat teratasi karena para perempuan di negara tersebut memiliki pengetahuan tentang lingkungan dan mampu mengidentifikasi keberadaan saluran-saluran baru yang dapat mengakses air bersih.

Berbagai upaya di atas menunjukkan bahwa peran aktif perempuan dalam mengatasi dampak dari perubahan iklim telah berkontribusi dalam memperlancar proses pembangunan masyarakat pascabencana, baik secara langsung maupun melalui advokasi di tingkat nasional dan internasional. Namun hal tersebut tidak berarti menyerahkan tanggung jawab tersebut sepenuhnya kepada perempuan. Mengoptimalkan peran laki-laki dalam keluarga juga penting untuk mencegah feminisasi kemiskinan dan ketidaksetaraan gender.

Selain itu peran pemerintah tetap krusial dalam menelurkan kebijakan pembangunan pascabencana yang sensitif gender dan kebijakan yang menegaskan aturan investasi pembangunan yang ramah lingkungan. Kebijakan ramah lingkungan ini diantaranya harus bertujuan akan efisiensi energi, pengurangan konsumsi gas serta peningkatan produksi energi yang dapat diperbaharui. Namun tidak hanya itu, political will pemerintah juga harus tampak dalam perumusan gender-sensitive budgeting dan pemberian bantuan financial bagi insiatif perempuan dalam mengatasi dampak perubahan iklim.

©athiqahnuralami.wordpress.com, 2010.

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Checker

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: