jump to navigation

Gender dalam Praktek Ekonomi Politik Internasional dan Keamanan Global (Bagian 3-habis) January 3, 2010

Posted by Athiqah Nur Alami in Gender, International Relations.
Tags: , , , ,
trackback

Peran perempuan di daerah konflik mendorong munculnya persoalan lain yang juga berimplikasi gender, yaitu terkait dengan akses perempuan terhadap sumber daya alam yang terbatas. Situasi konflik dan bencana alam, misalnya, telah menyebabkan terganggunya aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari, termasuk air sebagai kebutuhan utama untuk hidup. Dalam situasi ini, akses terhadap air telah menjadi ladang ”pertarungan” tersendiri bagi perempuan.

Namun isu ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam konteks konflik dan bencana. Dalam situasi normal pun, isu akses terhadap air telah menjadi persoalan sehari-hari yang dihadapi banyak perempuan di berbagai negara, khususnya di Afrika. Isu ini juga semakin penting bagi perempuan seiring dengan berbagai peristiwa alam akibat perubahan iklim (climate change). Oleh karena itu para feminis menggagas pentingnya melihat persoalan akses dan pengelolaan air (water management) tersebut dengan perspektif gender. Yaitu perspektif yang melihat adanya kebutuhan terhadap air yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan memerlukan kebutuhan air bersih yang lebih besar daripada laki-laki, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan reproduksinya tapi juga untuk anggota keluarga lainnya, termasuk anak-anaknya. Bahkan Foskey menyebut isu akses perempuan terhadap air sebagai persoalan hidup dan mati. Namun persoalannya kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi jika perempuan tidak memiliki akses pada pembuatan kebijakan tentang air. Hal ini dikarenakan, menurut Whited, laki-laki tetap menjadi pembuat keputusan utama di dalam komunitas, termasuk dalam hal pengelolaan air.

Oleh karena itu, beberapa negara di Afrika seperti Uganda dan Malawi berupaya untuk melibatkan perempuan dalam proses pembuatan kebijakan terkait dengan isu ini. Pengalaman pengelolaan air yang melibatkan perempuan di Uganda misalnya, ternyata mampu meningkatkan outcomes bagi perempuan. Begitu juga pengalaman di Malawi, ketika perempuan terpilih sebagai anggota komite pengelolaan air (water management committee) ternyata dapat meningkatkan jumlah rumah tangga yang mendapatkan akses air. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menghasilkan kebijakan pengelolaan air yang tidak bias gender.

Peran perempuan menjadi semakin signifikan ketika persoalan pengelolaan air ini terkait dengan program structural adjustment dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa program tersebut, sebagai bagian dari kebijakan restrukturisasi, telah membawa berbagai implikasi sosial ekonomi bagi perempuan. Dalam konteks ini, program yang secara umum menghendaki liberalisasi tersebut dapat mengakibatkan privatisasi dalam pengelolaan air.

Contoh fenonemal terhadap kasus privatisasi ini pernah terjadi di Chocabamba, salah satu kota di Bolivia. Kebijakan pemerintah setempat yang memprivatisasi sistem pengelolaan air kepada pihak swasta telah mengakibatkan kenaikan harga air hingga 35 persen. Kebijakan ini menyulut berbagai aksi penolakan berupa demonstrasi besar-besaran oleh masyarakat setempat, terutama perempuan. Aksi tersebut pada akhirnya mampu mengurungkan keinginan pemerintah untuk memberlakukan kebijakan itu. Pengalaman Bolivia ini menunjukkan bahwa sebenarnya kekuatan ekonomi transnasional dapat terkalahkan oleh kekuatan rakyat, termasuk peran perempuan di dalamnya.

Berbagai isu-isu di atas menunjukkan bahwa perempuan sebagai bagian dari masyarakat dunia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari persoalan ekonomi politik internasional dan keamanan global. Berbagai fakta empiris menunjukkan bahwa sistem ekonomi dan politik internasional telah menyebabkan subordinasi peran dan posisi perempuan.

Sebagai respons terhadap berbagai hal tersebut, perempuan di berbagai negara telah mengorganisasikan diri dalam bentuk gerakan perempuan lintas negara atau transnasional dalam mengusung berbagai isu tersebut. Namun menurut Antrobus yang perlu menjadi perhatian adalah berbagai gerakan perempuan yang sifatnya global tersebut memiliki karakteristik yang kompleks. Mereka belum memiliki tujuan yang jelas dan sama dalam mengusung prioritas agenda. Menurutnya hal ini dikarenakan perempuan di berbagai negara memiliki pengalaman yang beragam dan perjuangan perempuan merupakan persinggungan antara ras, kelas, gender dan kebutuhan untuk membedakan antara hubungan material dan ideologi dalam gender. Namun pada intinya mereka memiliki kesadaran yang sama akan pentingnya kesetaraan gender sebagai bagian dari transformasi sosial dalam masyarakat.

Kompleksitas gerakan perempuan pada akhirnya berimplikasi pada persoalan signifikansi berbagai gerakan sosial tersebut. Perlu diakui bahwa tidak semua gerakan sosial yang memperjuangkan kesetaraan gender memiliki implikasi dan kontribusi signifikan terhadap pemberdayaan perempuan baik di tingkat lokal maupun transnasional. Penyebabnya antara lain advokasi gender lintas budaya menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah khususnya di negara-negara yang memiliki kultur partiarki kuat.

Selain itu, bervariasinya tingkat kapasitas para anggota dalam organisasi perempuan tersebut juga menjadi faktor penentu. Karakteristik menarik lainnya dari gerakan perempuan saat ini adalah munculnya kelompok laki-laki yang membentuk gerakan sosial pendukung kesetaraan gender dan keterlibatan laki-laki sebagai anggota dari berbagai organisasi perempuan atau gerakan sosial yang peduli terhadap perempuan. Gerakan the White Ribbon Campaign di Canada misalnya, adalah gerakan laki-laki yang bertujuan untuk memobilisasi opini publik dan mendidik laki-laki untuk mencegah tindakan kekerasan terhadap perempuan. Gerakan lain dengan misi serupa adalah Men against Sexual Assault di Australia dan Men Overcoming Violence di Amerika Serikat.

Menurut Connell terdapat beberapa alasan yang menyebabkan munculnya berbagai gerakan laki-laki mendukung perubahan gender dan kesetaraan gender. Pertama, karena kualitas hidup laki-laki tergantung dengan kualitas relasi sosialnya dengan perempuan yang berperan sebagai istri, ibu dan anak perempuan. Terkait dengan peran sosialnya sebagai seorang ayah misalnya, laki-laki mendukung kesetaraan gender karena ingin memastikan bahwa anak perempuannya hidup di dunia yang menawarkan keamanan, kebebasan dan kesempatan untuk mengembangkan minatnya.

Kedua, laki-laki ingin mencegah efek negatif dari gender order bagi mereka. Misalnya, gender order yang menghendaki laki-laki untuk bersaing di dunia kerja untuk meningkatkan penghasilannya merupakan persoalan bagi laki-laki yang ingin menyeimbangkan aktivitas kerja dan kehidupan pribadinya. Alasan ketiga mengapa laki-laki mendukung kesetaraan gender adalah karena mereka melihat relevansi isu tersebut untuk memperbaiki komunitas dimana mereka tinggal. Misalnya, situasi kemiskinan di masyarakat dapat teratasi jika perempuan juga diberi kesempatan untuk bekerja guna menambah penghasilan keluarga. Terakhir, bagi laki-laki isu kesetaraan gender selaras dengan prinsip politik dan etika mereka, misalnya terkait dengan isu kesetaraan hak asasi manusia.

Perkembangan karakteristik gerakan perempuan transnasional di tengah kompleksitas situasi dunia internasional tersebut kemudian mengarah pada suatu pertanyaan. Apakah advokasi terhadap kesetaraan gender tersebut akan dapat berkelanjutan di tengah situasi politik yang maskulin?. Keterlibatan perempuan dalam berbagai aktivitas politik dan pemerintahan di legislatif (parlemen) dan eksekutif sebagai bentuk advokasi gender, misalnya, ternyata tidak selalu menjamin akan prioritas terhadap isu-isu kesetaraan gender. Peran perempuan dalam perumusan kebijakan luar negeri, misalnya sebagai Menteri Luar Negeri, tidak selalu mengusung dan merepresentasikan kepentingan perempuan. Perempuan yang menjadi bagian dari decision-makers tidak jarang larut dan terjebak dalam maskulinitas kultur di lingkungan pekerjaan.

Akhirnya, berkembangnya isu gender dalam praktek-praktek ekonomi politik internasional dan keamanan global berhasil menguak bahwa hubungan internasional, disadari atau tidak disadari, selama ini melibatkan aktivitas gender. Pembahasan terhadap berbagai isu di atas menunjukkan bahwa melihat negara sebagai satu-satunya aktor penting dalam hubungan internasional ternyata tidak lagi cukup untuk melihat kompleksitas perkembangan isu dalam hubungan internasional, khususnya isu-isu gender yang melibatkan perempuan dan laki-laki.

Oleh karena itu pendekatan positivis dalam teori-teori hubungan internasional yang menekankan pada peran negara tidak lagi relevan untuk menganalisis berbagai fakta empiris tersebut. Kondisi ini menyebabkan munculnya teori-teori feminis dalam hubungan internasional yang menawarkan perspektif gender dalam mempelajari dan memahami praktek-praktek hubungan internasional yang menandai pergeseran metodologi dalam studi hubungan internasional. Pembahasan tentang pergeseran metodologi tersebut akan menjadi tulisan berikutnya.

References:

Antrobus, Peggy, “The Global Women’s Movement: Definitions and Local Origins” dalam Peggy Antrobus (ed), The Global Women’s Movement: Origins, Issues and Strategies, 2004, London and New York: Zed Books.

Connell, R.W., “Change among the Gatekeepers: Men, Masculinities, and Gender Equality in the Global Arena”, Signs: Journal of Women in Culture and Society, 30/3(2005): 1801-1825.

Foskey, Deb, “Applying a Gender Lens to the Global Political Economy of the Right to Water”, dalam Kuntala Lahiri-Dutt (ed), Fluid Bonds: Views on Gender and Water, Kolkatta: Stree.

©athiqahnuralami.wordpress.com, 2010.

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Checker

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: